Hunting for Tolerance

Ilmuwan China Sukses Mengkloning Monyet, Akankah Manusia Berikutnya?

Sudah tidak diragukan lagi bahwa, teknologi Kloning hingga saat ini masih menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan. Dan harus diakui, perkembangan teknologi ini semakin pesat. Banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting bagi sejarah umat manusia di bidang teknologi. Lantas, apa sebenarnya teknologi kloning itu?

Yaps, Teknologi Kloning ini adalah suatu cara reproduksi yang menggunakan teknik tingkat tinggi di bidang rekayasa genetika untuk menciptakan makhluk hidup tanpa melalui perkawinan. Dalam bioteknologi, kloning merujuk pada berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas DNA atau gen, sel, atau organisme. Kata kloning, dari kata Inggris clone, pertama kali diusulkan oleh Herbert Webber pada tahun 1903 untuk mengistilahkan sekelompok makhluk hidup yang dilahirkan tanpa proses seksual dari satu induk. Secara alami kloning hanya terjadi pada tanaman.

Pada 1996, para peneliti telah berhasil membuat kloning mamalia pertama, yaitu Domba Dolly. Setelah kloning domba Dolly pada 1996, para peneliti terus mengkloning hewan-hewan lainnya. Namun, belum pernah ada yang berhasil membuat kloning bayi dari jenis primata seperti monyet, kera dan manusia.

Kisah Domba Dolly, Hasil Kloning Mamalia Pertama di Dunia

Sejarah tentang hewan kloning telah muncul sejak tahun 1900, tetapi hewan kloning baru dapat dihasilkan lewat penelitian Dr. Ian Willmut, seorang ilmuwan Skotlandia pada tahun 1997 dan untuk pertama kali membuktikan bahwa kloning dapat dilakukan pada hewan mamalia dewasa. Hewan kloning tersebut dihasilkan dari inti sel epitel ambing domba dewasa yang dikultur dalam suatu medium, kemudian ditransfer ke dalam ovum domba yang kromosomnya telah dikeluarkan, yang akhirnya menghasilkan anak domba kloning yang diberi nama Dolly.

Domba kloning yang mulanya diberi kode “6LL3” ini dinamai sesuai dengan penyanyi dan aktris kenamaan Amerika Serikat, Dolly Parton. Nama tersebut disarankan oleh salah satu peternak yang membantu kelahiran si Dolly dan mengetahui bahwa domba itu merupakan hasil kloning dari sel kelenjar susu.

Kloning domba Dolly ini merupakan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah kloning. Dolly direproduksi tanpa bantuan domba jantan, melainkan diciptakan dari sebuah sel kelenjar susu yang di ambil dari seekor domba betina.

Sel tersebut diambil dari kelenjar susu seekor domba berumur enam tahun dan dikultur di laboratorium dengan menggunakan jarum mikroskopis. Pembiakan itu menggunakan metode yang pertama kali dilakukan dalam perawatan kesuburan manusia pada tahun 1970. Setelah menghasilkan sejumlah telur normal, para ilmuwan menanamkan telur-telur tersebut ke dalam domba betina pengganti. 148 hari kemudian, salah satu domba melahirkan Dolly.

Kelahiran Dolly diumumkan secara terbuka pada bulan Februari 1997 sebagai sebuah gejolak kontroversi. Di satu sisi, para pendukung berpendapat bahwa teknologi kloning dapat menciptakan awal baru bagi kemajuan ilmu kedokteran. Kloning dilakukan dengan mengutip produksi hewan hasil rekayasa genetika menjadi donor organ untuk manusia.

Selain itu, ada pula kloning “terapeutik”, proses kloning embrio untuk mengumpulkan sel induk yang digunakan dalam pengembangan perawatan penyakit saraf degeneratif, seperti Alzheimer dan Parkinson.

Kloning domba Dolly termasuk teknologi transfer inti sel reproduktif kloning. Pada tipe reproduktif, DNA yang berasal dari sel telur hewan dihilangkan dan diganti dengan DNA yang berasal dari sel somatic (kulit, rambut dan lain-lain) hewan dewasa yang lain.

Jadi, domba hasil kloning merupakan domba hasil perkembangbiakan secara vegetative (aseksual) karena sel telur tidak dibuahi oleh sperma.

Prinsip dari teknik yang diaplikasikan untuk menciptakan Dolly, sebenarnya sangatlah sederhana dan sudah ada sejak tahun 1975. Seorang ilmuwan bernama Gurdon mengambil nukleus atau inti sel dari sel telur katak dan menggantinya dengan nukleus dari sel usus, hasilnya, kecebong-kecebong kecil yang mati sebelum tumbuh jadi katak dewasa. Dan kloning akan berhasil apabila nukleus ditransplantasikan ke dalam sel yang akan menghasilkan embrio (sel telur) termasuk sel germa. Apa itu? Sel germa adalah sel yang menumbuhkan telur dari sperma.

Beberapa ilmuwan juga melihat klasifikasi hewan sebagai suatu alternatif dalam melestarikan spesies yang terancam punah. Di sisi lain, para pengkritik memandang bahwa teknologi kloning ini justru tidak aman dan tidak etis, terutama bila diterapkan pada manusia.

Meskipun Ian Wilmut, ilmuwan utama di tim yang memproduksi Dolly, telah berbicara secara terbuka bahwa ia menentang kloning manusia, namun sepertinya para pendukung kloning tidak akan terpengaruh dengan pernyataan tersebut. Sementara itu, Dolly si domba bersejarah diabadikan dan sekarang dipajang di Museum Nasional Skotlandia di Edinburgh.

Namun setelah itu, muncul lah berita yang mengatakan bahwa para peneliti di China telah berhasil menciptakan dua monyet kloning. Sontak, berita tentang ilmuwan China yang berhasil melakukan kloning pada monyet tersebut banyak menyita perhatian publik. Jelaslah menyita perhatian publik, karena ini pertama kalinya primata dikloning dengan teknik yang sama untuk menghasilkan domba Dolly.

Sejumlah ilmuwan China itu telah mengkloning monyet dengan menggunakan teknik yang sama saat menciptakan domba, yang terkenal dengan julukan ‘Dolly the Sheep’, dua dekade yang lalu. Keberhasilan ilmuwan China ini menjadi pemecah masalah teknis yang dapat membuka jalan untuk mengkloning manusia.

Lalu, seperti apakah proses yang dilakukan para ilmuwan China untuk mendapatkan dua monyet tersebut? Penasaran kan? Okey.. di artikel kali ini kita akan membahas tentang Ilmuwan China yang telah berhasil Mengkloning Monyet. Jangan stop sampai disini guys, lanjut terus sampai kebawah yaaaa..

Dua monyet kera yang sangat istimewa ini diberi nama Zhong Zhong dan Hua Hua. Dua monyet berekor panjang yang identik. Yang lahir di Chinese Academy of Sciences Institute of Neuroscience di Shanghai. Dan mereka menjadi primata pertama yang dikloning dari sel non-embrio yang implikasinya sangat luas. Urutan primata adalah monyet, kera dan manusia.

Nama monyet tersebut berasal dari kata China “Zhonghua,” yang berarti orang atau bangsa China. Monyet-monyet tersebut dibuat dengan menggunakan metode yang dikenal sebagai Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT), dengan memindahkan inti sel dengan DNA ke dalam sel telur yang inti selnya sudah diambil. Para ilmuwan mencapai prestasi ini dengan melepaskan nukleus dari sel telur monyet dan menggantinya dengan nukleus dari sel tubuh yang berbeda.

“Kami mencoba beberapa metode, tapi hanya satu yang berhasil” kata Qiang Sun, salah satu ilmuwan yang menjadi anggota tim peneliti kloning monyet ini. “Banyak sekali kegagalan sebelum kami berhasil menemukan cara untuk mengkloning seekor monyet,” tambahnya.

Tantangan yang dihadapi para peneliti dalam menemukan metode SCNT yang tepat tidaklah mudah. Sebab, penggunaan metode ini pada primata sering kali menyebabkan perkembangan embrio tertahan pada usia empat sampai sembilan hari atau disebut juga pada fase blastokista. Dan sampai pada akhirnya tim peneliti baru sukses mengkloning monyet setelah menggunakan sel yang diambil dari jaringan janin.

Periset dari Chinese Academy of Sciences Institute of Neuroscience di Shanghai juga mengatakan bahwa upaya yang mereka lakukan sangat bermanfaat dan bisa menjadi sumbangan berarti bagi penelitian medis, yang memungkinkan untuk mempelajari penyakit pada populasi monyet dengan gen yang seragam. Para periset juga berharap akan lebih banyak kera kloning yang lahir dalam beberapa bulan mendatang.

Kloning Monyet Kembar dan Manfaatnya Bagi Penelitian

Mungkin Anda adalah salah satu dari sekian banyak orang yang pernah mendengar tentang studi kembar atau twin studies. Apa itu? Studi ini dapat membantu kita untuk memperlajari efek dari suatu aktivitas atau obat dengan lebih akurat. Ini dikarenakan tubuh tiap orang memberikan respons yang berbeda pada setiap hal. Dan orang yang memiliki kembaran identik dapat memberikan akurasi pada studi atau penelitian.

“Banyak pertanyaan mengenai biologi primata yang dapat dipelajari dengan menggunakan model tambahan ini,” kata Sun.
“Anda juga dapat memproduksi kloning monyet dengan latar belakang gen yang sama kecuali gen yang Anda ingin manipulasi,” ujarnya.

Tidak hanya itu, ia juga mengatakan bahwa hal ini dapat digunakan sebagai cara untuk mempelajari penyakit otak, kanker, sistem imun bahkan kelainan metabolisme. Sekaligus memberikan kesempatan untuk melakukan uji efisiensi obat sebelum diuji secara klinis.

Namun, penggunaan primata dalam eksperimen masih cukup kontroversial di dunia. Bahkan di beberapa negara di dunia, hal tersebut masih dilarang. Walaupun demikian, penggunaan primata bukan manusia dianggap cukup vital bagi penelitian biomedis. Hal tersebut dikarenakan kedekatan gen mereka dengan manusia sekaligus tingkat kepandaian serta dinamika sosialnya.

Peringatan terhadap Prosedur yang Digunakan

Sejak Dolly dikloning, lahir di Skotlandia tahun 1966, para ilmuwan telah berhasil menggunakan SCNT untuk mengkloning lebih dari 20 spesies lainnya, termasuk sapi, babi, anjing, kelinci dan juga tikus. Upaya yang dilakukan pada primata seringkali gagal, menyebabkan beberapa ilmuwan bertanya-tanya akan primata memiliki kekebalan. Namun penelitian baru, di jurnal Cell, menunjukkan sebaliknya.

Setelah sekian banyak upaya yang dilakukan, akhirnya Tim Ilmuwan China berhasil dengan menggunakan modulator untuk mengaktifkan atau menonaktifkan gen tertentu, yang menghambat perkembangan embrio. Meski begitu, tingkat keberhasilan mereka sangat rendah dan teknik ini hanya bekerja jika inti sel dipindahkan dari sel janin dan bukan saat dewasa, seperti yang terjadi pada Dolly. Dan secara keseluruhan, dibutuhkan 127 telur untuk menghasilkan dua kelahiran kera.

“Ini tetap prosedur yang sangat tidak efisien dan berbahaya,” kata Robin Lovell-Badge, seorang ahli kloning di Francis Crick Institute di London, yang tidak terlibat dengan ilmuwan China.

“Upaya ini bukanlah batu loncatan untuk menciptakan metode kloning pada kelahiran bayi manusia dan sangat jelas bahwa hal ini gila untuk dicoba”.

Penelitian tersebut menggarisbawahi peran China yang semakin penting pada perkembangan terbaru di dunia biosains, di mana para ilmuwannya terkadang melampaui batas-batas etis.

Tiga tahun yang lalu, misalnya, para periset di Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou membuat kegemparan, saat mereka melaporkan sedang melakukan percobaan pertama untuk mengedit DNA embrio manusia. Walaupun upaya yang sama kini sedang dilakukan di Amerika Serikat.

Para ilmuwan di institut Shanghai tersebut mengatakan bahwa, mereka mengikuti pedoman internasional untuk penelitian hewan, sesuai ketetapan National Institute of Health di Amerika Serikat. Tapi memicu perdebatan soal praktik yang diterima atau tidak diterima pada kloning primata.

Okeyy kembali lagi ke atas, seperti yang sudah kita bahas, bagaimanakah proses yang dilakukan para ilmuwan China untuk mendapatkan dua monyet yang bernama Zhong Zhong dan Hua Hua, tersebut? Penasaran bukan? Ini jawabannya:

Pertukaran DNA

Untuk kedua primata bermata besar tersebut, para ilmuwan China melakukan proses yang disebut dengan transfer nuklir sel somatik (tubuh). Dalam proses ini, para peneliti mengambil sel telur (oosit) monyet dan mengeluarkan nukleus (inti sel/pembentuk DNA).

Next, mereka mengambil sel tubuh atau somatik dari janin monyet dan melepaskan nukleusnya, kemudian mentransfer inti sel tersebut ke dalam telur kosong yang telah diambil nukleusnya tadi. Sel telur yang “direkonstruksi” ini kemudian dibiarkan tumbuh, terbelah dan akhirnya menjadi embrio awal. Selanjutnya, embrio tersebut ditempatkan pada rahim monyet betina hingga lahir.

Cara ini mirip dengan yang digunakan pada domba Dolly tahun 1996 silam. Di samping itu, cara ini juga telah digunakan untuk mengkloning banyak hewan seperti domba, tikus, sapi, hingga anjing. Meski berhasil pada hewan lain, sayangnya, cara ini berkali-kali menuai kegagalan pada kloning primata. Dengan kata lain, baru kali pertama para ilmuwan berhasil mengkloning primata.

Hal ini tentu menjadi tanda tanya besar bagaimana ilmuwan di China tersebut berhasil membuat kloning primata untuk pertama kalinya. “Mungkin perbedaan nuklei somatik dari spesies primata tidak dapat mengekspresikan gen yang dibutuhkan untuk pengembangan embrio,” ungkap Mu-Ming Poo, salah satu peneliti yang terlibat.

Untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti memperbaiki teknik pengkloningan mereka. Mereka mengoptimalkan transfer nuklir dengan pencitraan mutakhir. Di samping itu, mereka juga memperbaiki perpaduan sel donor ke sel telur selama proses transfer.

“Kami mencoba beberapa metode yang berbeda, tapi hanya satu yang berhasil,” kata Qiang Sun, penulis senior penelitian. “Ada banyak kegagalan sebelum menemukan cara untuk mengkloning seekor monyet,” imbuhnya.

Setelah melalui berbagai percobaan, para peneliti beralih menggunakan Epigenetika (perubahan ekspresi genetika) untuk melakukan pemrograman ulang ini. Mereka tak hanya mengubah urutan DNA itu sendiri, tapi juga cara gen individu diekspresikan. Dengan begitu, mereka dapat mengaktifkan kembali gen yang dibutuhkan untuk pengembangan embrio.

Sel Janin sebagai Donor

Tidak hanya itu, mereka juga menggunakan sel jaringan ikat yang disebut Fibroblas dari janin kera ekor panjang (Macaca fascicularis) sebagai donor. Untuk mengantisipasi kegagalan, mereka menciptakan 79 oosit kloning yang ditanamkan pada rahim 21 ibu pengganti.

Menurut laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Cell, enam kehamilan terus berlanjut. Sayangnya, hanya dua yang berkembang penuh hingga dilahirkan.

Tak sampai disitu, pada percobaan lainnya, para peneliti juga mencoba kloning dengan donor sel monyet dewasa. Lagi-lagi, percobaan ini kurang sukses. Dari kloning sel dewasa tersebut, sebenarnya ada dua kelahiran yang tercipta. Namun, kedua bayi primata itu meninggal segera setelah lahir.

Poo menyebut, hal ini mungkin karena sel-sel dewasa lebih sulit diprogram ulang dibanding sel janin. Selain itu, sel janin juga mudah tumbuh di lingkungan laboratorium dan mudah pula diedit secara genetis.

Dilansir dari sebuah sumber, para peneliti menilai pengkloningan ini disebut memiliki proses yang sangat tidak efisien. Pasalnya, dibutuhkan 127 sel telur untuk mendapatkan kedua bayi monyet itu.

Selain itu, sejauh ini, pengkloningan hanya berhasil jika dimulai dengan menggunakan janin monyet. Para peneliti gagal menghasilkan bayi yang sehat dengan mengkloning monyet dewasa.

Mengapa Implikasinya Dikatakan Sangat Luas?

Dikatakan demikian karena, ini membawa kita selangkah lebih dekat ke rana etis yang merupakan kloning manusia. Saat ini sangat ilegal untuk melakukan kloning pada manusia di banyak negara di dunia. Peneliti ini sebenarnya telah meminta ahli untuk mempertimbangkan dan memperdebatkan praktik apa yang seharusnya dan tidak boleh diterima di ranah kloning primata.

Mungkinkah Manusia Dikloning?

Seperti yang kita ketahui, selama ini para peneliti telah menggunakan teknik kloning embrio manusia untuk tujuan memproduksi sel induk. Tetapi, mungkinkah teknik serupa bisa mengkloning tubuh manusia?

Meskipun tindakan ini dinilai tidak etis, para ahli mengatakan kemungkinan biologis bisa saja melakukannya. Namun sumber daya yang dibutuhkan untuk proses ini menjadi hambatan cukup signifikan.

Sejak tahun 1950-an, para peneliti berhasil mengkloning binatang seperti katak, tikus, kucing, domba, babi maupun sapi. “Tiap kasus, para peneliti menemukan permasalahan yang perlu diatasi dengan trial and error,” kata Dr Robert Lanza, kepala petugas ilmiah di perusahaan Advanced Cell Technology yang bekerja pada terapi sel untuk penyakit manusia dan telah berhasil mengkloning hewan.

Mengkloning tikus, para peneliti dapat menggunakan ribuan telur dan melakukan banyak percobaan. “Ini adalah permainan angka,” kata Lanza. Tetapi dengan primata, telur merupakan sumber daya yang sangat berharga dan tidak mudah mendapatkan mereka untuk mengulangi percobaan-percobaan.

Selain itu, peneliti tak bisa hanya menerapkan proses yang sama ketika mereka mengkloning tikus ataupun sapi ke proses kloning manusia. Misalnya, kloning binatang mengharuskan peneliti harus menghapus inti dari sel telur. Ketika peneliti melakukan ini, mereka juga harus membuang protein yang penting untuk membantu sel-sel membagi.

Pada tikus, ini bukan masalah karena embrio kloning yang telah diciptakan mampu membuat protein ini lagi. Tetapi tidak dengan primata yang tidak bisa melakukan ini. Itu mungkin salah satu alasan yang menjelaskan mengapa selalu saja gagal mengkloning monyet.

Terlebih lagi, hewan hasil kloning sering memiliki berbagai kelainan genetik yang dapat mencegah implantasi embrio dalam rahim. Atau bisa juga menyebabkan janin akan gagal hidup bahkan hewan segera mati setelah lahir.

Ini proses abnormal yang umum karena embrio kloning hanya berasal dari satu individu induk, bukan hasil perkawinan dua individu. “Ini berarti bahwa proses molekuler tidak terjadi dengan baik dalam embrio kloning,” kata Lanza.

Proses kloning ini dapat mengakibatkan ukuran plasenta sangat besar yang pada akhirnya mengarah pada masalah aliran darah bagi janin. Pernah dalam satu percobaan, bayi banteng yang lahir berukuran dua kali lebih besar dibandingkan ukuran normal. Tingkat kematian yang sangat tinggi dan resiko perkembangan abnormal dari proses kloning inilah yang menjadikan alasan bahwa mengkloning manusia sangatlah tidak etis.

Nah, dari sedikit penjelasan diatas setidaknya Anda sudah tahukan, bagaimana proses para ilmuwan China mencapai keberhasilan nya mengkloning monyet dan pastinya Anda juga sudah tahu tentang jawaban kloning manusia. Well, semoga bermanfaat dan menambah wawasan..

You might also like