Hunting for Tolerance

Setinggi Gedung Empire State New York, Asteroid Penghancur Ini Akan Tiba di Bumi Tahun 2135

Seperti yang diketahui, dalam sistem tata surya kita, sampai saat ini masih banyak sekali tersimpan berbagai misteri yang hingga kini banyak diteliti oleh para ilmuwan. Contohnya mulai dari misteri keberadaan alien, kehidupan di planet lain selain di bumi, dan ribuan bahkan jutaan asteroid yang beredar di luar angkasa.

Dan di luaran sana, mungkin saja ada banyak ribuan asteroid yang dinyatakan sangat berbahaya bagi bumi meski sebenarnya tidak. Dan baru-baru ini, sebuah tim penelitian mengungkapkan fakta mengerikan soal prediksi adanya asteroid yang bakal menghantam bumi pada tahun 2135. Tak hanya itu, bahkan kabar terburuknya diungkapkan bahwa NASA pun disebut-sebut tak akan sanggup untuk menghentikan benda luar angkasa yang dapat memicu kepunahan di planet bumi ini.

Nah, kira-kira asteroid apa yaa yang bakal hantam bumi di tahun 2135? Dan kenapa bisa NASA sampek putus asa gitu mengungkapkan gaksanggup gitu ngadepinnya? Sebenarnya ada apasihh? Daripada kepoh kepoh gakjelas, mending langsung aja yuk baca kebawah….

Bennu, Asteroid Raksasa yang akan Menghantam Bumi pada tahun 2135

Asteroid dibagi menjadi berbagai jenis berdasarkan komposisi kimianya. Asteroid paling primitif ialah yang kaya karbon dan belum berubah secara signifikan sejak mereka membentuk hampir 4 miliar tahun yang lalu. Asteroid ini mengandung molekul organik, volatil, dan asam amino yang mungkin telah prekursor untuk kehidupan di Bumi. Dari daftar 26 Asteroid yang tersisa, hanya 12 yang memiliki komposisi dikenal dan hanya 5 yang primitif dan kaya karbon.

Dan di atas tadi sudah dijelaskan bahwa, ada banyak ribuan asteroid yang dinyatakan sangat berbahaya untuk bumi meski sebenarnya tidak. Akan tetapi, berbeda halnya dengan sebuah asteroid sepanjang 500 meter (1.640 kaki) atau ukurannya lebih dari lima lapangan sepakbola yang diberi nama “Bennu” ini. Bongkahan batu yang disebut Bennu ini, seukuran desa dan setinggi Gedung Empire State New York. Beratnya sekitar 79 miliar kilogram dan membuatnya 1,664 kali lebih berat dari Titanic dan mengelilingi matahari sekitar 63.000 mph.

Asteroid yang disebut Bennu itu melintasi orbit bumi sekali setiap enam tahun dan diperkirakan melewati antara bulan dan bumi pada tahun 2135. Para ilmuwan khawatir, orbit asteroid selebar 500 meter ini dapat berubah oleh gravitasi bumi saat melintas, yang membuat asteroid Bennu ini bisa menghancurkan planet bumi saat melintasi dikemudian hari.

Seorang profesor ilmu planet di sebuah Arizona University, Dante Lauretta, telah melakukan rekayasa bahwa orbit Bennu memiliki potensi ada pada jalur bumi pada tahun 2135. “Ia mungkin ditakdirkan untuk menyebabkan penderitaan dan kematian besar,” ucapnya.

Sulit bagi para astronom memprediksi bagaimana perlintasan antara bumi dan bulan akan mempengaruhi orbit Bennu, tapi Lauretta memperkirakan hal itu bisa menggeser asteroid tersebut ke jalur tabrakan dengan bumi. “Kami memperkirakan kemungkinannya sekitar satu dari 2.700 antara tahun 2175 dan 2196,” katanya. Dan apabila tabrakan benar terjadi, bakal muncul ledakan setara dengan 3 miliar ton bom.

Dan asteroid Bennu ini akan mengelilingi matahari pada kecepatan rata-rata 63.000 mph (101.371 kilometer per jam) dan dampaknya pada bumi akan sama dengan tiga miliar ton bahan peledak. NASA begitu peduli terhadap Bennu sehingga mencoba mengirimkan sebuah pesawat luar angkasa untuk meneliti Bennu. Pesawat bernama OSRIS-REx tersebut, rencananya akan diluncurkan pada bulan September dan akan mendarat di asteroid itu pada tahun 2018.

Pesawat ruang angkasa OSRIS-Rex tersebut akan menghabiskan waktu kurang lebih satu tahun pada permukaan asteroid Bennu untuk mengumpulkan sampel batuan sebelum kembali ke bumi pada tahun 2023. Dan jika berhasil, misi ini akan menjadi yang pertama, yang mengunjungi asteroid dan kembali ke bumi.

So, untuk menangkap sampel di permukaan, penyelidik hal itu akan meliput lebih dari satu wilayah tertentu dan akan turun dengan kecepatan 10 sentimeter per detik. Ia akan kontak dengan permukaan selama lima detik saat menyedot wilayah yang ditargetkan.

Well, misi ini juga akan digunakan untuk mempelajari kehidupan dengan menganalisis mineral di bawah permukaan Bennu ini.

NASA Tak Mampu Hentikan Asteroid yang Dapat Hancurkan Bumi di Tahun 2135

Nah, kita kembali sedikit ke atas nih guys… Di ataskan telah dijelaskan bawha NASA mengklaim, pihaknya tidak dapat mempertahankan Bumi dalam melawan asteroid yang bisa menghancurkan Bumi pada tahun 2135, hal tersebut diungkapkan lewat sebuah penelitian yang telah dilakukan. Bahkan kabar buruknya, NASA pun disebut-sebut tak sanggup menghentikan benda luar angkasa yang bisa memicu kepunahan di planet bumi ini. Nah pastinya mau tau dong dengan jawabannya? Ikuti terus yukkkk…

Para peneliti menyebutkan nyaris tidak mungkin untuk menghentikannya. Kecuali dilakukan langkah terakhir seperti halnya dalam film Armageddon, yakni dengan menggunakan bom nuklir. Para ilmuwan kini tengah memelajari berbagai kemungkinan yang bisa ditempuh. Semisal menggunakan bom nuklir yang dibawa pesawat luar angkasa khusus.

Tapi ini pun tak bisa menghilangkan sama sekali ancaman tersebut. Namun minimalnya hal ini bisa mengurangi resiko. Kemungkinan lainnya dengan cara memaksa asteroid berbelok dengan menggunakan teknologi impactor. Namun, opsi penggunaan bom nuklir sejauh ini masih mendominasi.

Dalam laporan penelitian ilmuwan NASA dan Badan Nasional Keamanan Nuklir, mereka mengungkapkan rencana taktis mitigasi bencana dalam program Hypervelocity Asteroid Mitigation Mission for Emergency Response (HAMMER). Pesawat luar angkasa HAMMER ini mungkin bisa digunakan untuk menjangkau asteroid berukuran kecil atau sebagai pesawat pengangkut bom nuklir lewat kendali jarak jauh.

“Dua upaya yang paling mungkin dilakukan yakni dengan menggunakan pesawat luar angkasa yang berfungsi sebagai kinetic impactor, atau sebagai pengangkut nuklir,” demikian penjelasan sebagaimana yang dipublikasikan dalam jurnal Acta Astronautica.

Meski demikian, ada beberapa faktor lainnya yang bisa menentukan keberhasilan upaya tersebut. Diantaranya tergantung ukuran asteroid dan berapa banyak waktu yang masih tersisa sebelum asteroid itu benar-benar menghantam bumi. Ditambah lagi dengan faktor X, dimana selalu ada berbagai ketidakpastiaan.

Dalam praktiknya, Kinetic impactor dilakukan dengan meluncurkan beberapa pesawat luar angkasa sekaligus ke jalur yang akan dilintasi asteroid. Dengan cara ini, diprediksi dapat memperlambat laju asteroid sekaligus bisa membelokannya. Dan jika tidak berhasil, maka bom nuklir merupakan satu-satunya jawaban.

“Kalau asteroidnya kecil, kinetic impactor bisa berhasil, tapi ini butuh waktu lama, “ jelas Fisikawan David Dearborn, dari Laboratorium Nasional Lawrence Livermore.

Meskipun ada upaya untuk mendata berbagai potensi bahaya disekitar bumi, para ilmuwan semakin mengingatkan bahwa ada banyak sekali benda luar angkasa yang sampai saat ini belom terdeteksi.

Mengingat risiko dampak yang tak terelakkan di masa depan, para ahli mengatakan bahwa sangat penting artinya untuk memetakan potensi terburuk. Dan para peneliti akan mengajukan proposal mereka di sebuah konferensi di Jepang pada bulan Mei mendatang.

Bom Nuklir yang Dibutuhkan untuk Menghancurkan Asteroid

Ilmuwan kini memiliki gagasan yang lebih baik tentang seberapa kuat nuklir yang dibutuhkan untuk menghadang asteroid yang masuk ke Bumi.

Periset di Rusia telah memodelkan penghancuran batuan antariksa berbahaya di dalam lab, menggunakan replika asteroid kecil dan ledakan laser untuk meniru efek hulu ledak nuklir. Tim tersebut menetapkan, antara lain, bahwa butuh bom nuklir 3 megaton untuk melenyapkan asteroid berukuran 650 kaki atau 200 meter. Dan kekuatan destruktif nuklir akan meningkat dengan meledak di dalam kawah atau rongga di dalam batuan antariksa.

Untuk perspektif, bom atom yang diturunkan Amerika Serikat di kota Hiroshima dan Nagasaki Jepang selama Perang Dunia II memiliki hasil eksplosif sekitar 15 kiloton dan 20 kiloton. Satu megaton setara dengan 1.000 kiloton.

Senjata nuklir paling kuat yang pernah dibangun, bom hidrogen “Tsar Bomba” dari Uni Soviet, menghasilkan sekitar 50 megaton.

Untuk studi baru ini, para periset memproduksi asteroid buatan kecil, mendasarkan struktur dan komposisinya pada sebongkah batuan antariksa yang meledak di kota Chelyabinsk Rusia pada bulan Februari 2013. Meteor yang digunakan tim tersebut ditemukan dari dasar Danau Chebarkul Rusia.

Tim peneliti kemudian menempatkan asteroid buatan mereka, yang memiliki berbagai bentuk, di ruang vakum dan menyerangnya dengan pulsa laser singkat. Para ilmuwan menemukan bahwa ledakan laser 500 joule per gram diperlukan untuk memecah batuan model jadi 0,3 inci hingga 0,4 inci (8 sampai 10 milimeter), jika ledakan itu diarahkan ke rongga di “asteroid”. Tanpa rongga, energi yang diperlukan adalah sekitar 650 joule per gram.

Para peneliti membuat skala hasil ini untuk sampai pada kesimpulan mereka mengenai asteroid berukuran 650 kaki.

Studi baru ini yang diterbitkan dalam Journal of Experimental and Teoretical Physics edisi Rusia, akan segera muncul dalam jurnal versi bahasa Inggris.

Di masa depan, para peneliti berencana untuk memperluas eksperimen mereka ke batuan antariksa logam, dan untuk menyelidiki secara lebih mendalam bagaimana bentuk asteroid dan rongganya dapat mempengaruhi usaha nuklir itu.

“Dengan mengakumulasi koefisien dan dependensi untuk asteroid dari jenis yang berbeda, kami memungkinkan pemodelan cepat ledakan itu sehingga kriteria penghancuran dapat dihitung dengan segera,” ujar salah satu penulis studi Vladimir Yufa, seorang profesor di departemen Fisika Terapan dan departemen Sistem Laser dan Bahan Terstruktur di Institut Fisika dan Teknologi Moskow.

“Kami juga melihat kemungkinan untuk membelokkan sebuah asteroid tanpa menghancurkannya dan berharap untuk keterlibatan internasional,” tambah Yufa.

Nah, jika sebuah asteroid seukuran Bennu akan menabrak Bumi, kemungkinan kehidupan umat manusia akan musnah dalam waktu singkat. Tetapi, inilah kehidupan, kita semua tidak akan tau apa yang akan terjadi dikemudian hari tapi setidaknya kita harus tetap berjaga-jaga…

You might also like