Hunting for Tolerance

Terkuak! Richard Jantz Yakin, Tulang di Nikumaroro Milik Amelia Earhart

Dunia kembali dihebohkan dengan kasus beberapa dekade yang lalu. Kasus hilangnya Amelia Earhart dan pemandunya Fred Noonan saat melakukan penerbangan. Dan berita baiknya adalah bahwa, tulang belulang yang pernah ditemukan, yang diduga milik Amelia Earhart, kini 99% telah berhasil diindiidentifikasi. Masa iya? Bener gaksih? Okey simak aja guys..

Pada 2 Juli 1937, pilot legendaris Amelia Earhart dan pemandunya Fred Noonan tiba-tiba menghilang setelah lepas landas dari Lae, New Guinea. Mereka sedang dalam perjalanan menuju pulau kecil di utara khatulistiwa, Pulau Howland, ketika kehilangan kontak. Berbagai pencarian pun dilakukan. Namun, Earhart tidak pernah ditemukan.

Salah satu teori berkata bahwa, Earhart dan Noonan tidak berhasil menemukan Pulau Howland dan mendarat di Nikumaroro. Teori ini bermula dari ditemukannya 13 tulang manusia di dekat bekas api unggun di pulau Nikumaroro pada tahun 1940.

Tulang belulang yang ditemukan di sebuah pulau terpencil di Pasifik Selatan tersebut, mungkin akan menjadi kunci untuk memecahkan misteri hilangnya salah satu tokoh penerbangan terkenal dunia tersebut.

Dan tulang-tulang tersebut itu diduga milik Earhart, karena ditemukan bersamaan dengan sepatu, kotak untuk alat navigasi yang mirip dengan milik Noonan serta botol Benedictine yang selalu dibawa oleh pilot legendaris tersebut.

Nah, sebelum membahas kepermasalahan intinya, ada baiknya kita lebih dulu mengetahui sedikit histroty bagaimana sih sebenarnya jejak kematian si Amelia Earhart itu… ikuti terus yaaaa..

Melacak Kematian Amelia Earhart

80 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 2 juli 1937, Amelia Earhart dan pemandunya, Fred Noonan, lepas landas dari Lae, Papua Nugini. Mereka akan terbang menuju sebuah pulau kecil di sebelah utara khatulistiwa, Pulau Howland. Namun, mereka tidak pernah sampai kesana. Karena Lockheed Electra 10E, pesawat yang mereka tumpangi tiba-tiba menghilang.

Setiba hilangnya kontak, penjaga pantai AS dan angkatan laut mulai melakukan pencarian di tempat tersebut dengan menggunakan kapal dan pesawat terbang selama dua minggu. George Putnam, suami Earhart, juga meminta marinir sipil untuk melanjutkan pencarian. Namun tak seperti yang diharapkan, Amelia tidak pernah ditemukan.

Dan sejak saat itu, hingga bertahun-tahun lamanya, hilangnya Amelia masih menjadi sebuah teka-teki dan mencuri banyak perhatian dari berbagai publik. Pencarian tetap terus dilakukan dan bahkan teori bermunculan untuk menjelaskan bagaimana dan dimana hidup perempuan pertama yang terbang melintasi Atlanik ini berakhir.

Ketika waktu itu, diadakanlah sebuah ekspedisi pencarian Amelia Earhart. Dan tim ekspedisi yang diselenggarakan oleh Internasional Group for Historic Aircraft Recovery (TIGHAR) ini mulai berlayar pada 24 Juni 2017 dari Fiji. TIGHAR sendiri setidaknya telah meluncurkan 12 misi untuk mencari keberadaan Earhart. Ekspedisi membawa tim ahli pencari jenazah serta anjing yang terlatih. Tujuan ekspedisi adalah di sebuah pulau tak berpenghuni yang berjarak sekitar 1.600 kilometer dari utara Fiji, Nikumaroro.

Ketika itu tim ekspedisi ingin menguji apa yang disebut hipotesis Nikumaroro. Hipotesis itu berspekulasi jika Earhart dan Noonan yang tidak bisa menemukan Pulau Howland akhirnya mendarat di Nikumaroro.

Pulau karang yang terdapat sekitar 500 kilometer laut barat daya Pulau Howland merupakan titik terakhir Earhart mengonfirmasi keberadaannya. Sementara di garis barat laut, tidak ada apa-apa selain samudra sejauh ribuan mil. Di bagian tenggara adalah Kepulauan Phoenix, yang termasuk salah satunya adalah Pulau Nikumaroro.

“Jika Anda tidak tahu di mana Anda berada, itu adalah arah yang logis untuk dituju,” kata Ric Gillespie, direktur eksekutif TIGHAR.

Pulau Nikumaroro, yang kemudian disebut Pulau Gardner, memiliki hamparan karang datar yang bisa menjadi tempat bagi Earhart untuk mendarat. Apalagi laporan yang diterima oleh tim ekspedisi juga mengungkap, saat pulau itu dikolonisasi pada tahun 1940, ditemukan 13 tulang yang kemudian dikirim ke Fiji. Namun, tulang-tulang itu kemudian menghilang. Administrator kolonial menduga itu adalah tulang-tulang Earhart.

“Ada potensi lebih banyak tulang lagi di sana. Sekitar 193 tulang yang belum diketahui,” kata Tom King, arkeolog senior TIGHAR.

Bantuan Anjing Pelacak

Itulah mengapa dalam ekspedisi ini, tim kemudian membawa serta anjing pelacak yang terlatih. Anjing-anjing ini akan membantu melacak keberadaan Earhart di pulau Nikumaroro. “Mereka memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi daripada radar dalam mengidentifikasi benda-benda,” kata Fred Hiebert, arkeolog lain yang terlibat dalam ekspedisi ini.

Meski demikian, misi ini punya tantangannya tersendiri. Empat anjing yang dibawa harus bertahan dalam penerbangan trans-Pasifik dan juga menghadapi pelayaran selama hampir seminggu untuk sampai ke Nikumaroro. Karena seperti yang diketahui, bahwa pulau itu sendiri panas, tertutup vegetasi yang lebat dan penuh dengan kepiting, termasuk kepiting kelapa. “Anjing-anjing ini tidak efektif dalam kondisi yang panas. Namun, setidaknya mereka bisa bekerja di sekitar semak belukar. Saya yakin mereka bisa mencium aroma,” tambah Hiebert.

Jika mencium aroma tulang manusia, anjing-anjing tersebut kemudian akan duduk atau berbaring di dekat tempat dengan bau yang paling kuat. Setelah itu, arkeolog akan menggali area yang luas di sekitarnya. Setelah tim menemukan tulang, mereka akan mengirimkannya kembali ke Amerika Serikat untuk dilakukan analisis DNA. Karena Earhart masih memiliki keluarga yang bisa menjadi perbandingan, walaupun Noonan tidak.

Anjing Mencium Bau Mayat di Bawah Pohon

Anjing pelacak tersebut ternyata berhasil menemukan titik di mana Earhart kemungkinan meninggal 80 tahun yang lalu. Titik tersebut memang sebenarnya pernah dipetakan oleh tim peneliti TIGHAR. Mereka menyebut tempat terbuka itu dengan sebutan situs tujuh.

Dalam beberapa saat sejak bekerja di situs tersebut, salah satu anjing bernama Berkeley berbaring di bawah pohon ren, anjing tersebut menunjukkan jika dia mendeteksi sebuah aroma jenazah manusia. Anjing lainnya, Kayle, juga melakukan hal yang serupa di titik yang sama.

Hari berikutnya, kedua anjing tersebut juga menunjukkan gelagat yang sama. Sudah jelas, seseorang, mungkin Earhart atau pemandunya, telah meninggal di bawah pohon ren tersebut. Namun, ternyata tak mudah bagi arkeolog untuk menemukan tulang-tulang tersebut. Hingga menjelang ekspedisi berakhir, tim belum berhasil menguak keberadaan tulang-tulang itu.

Arkeolog TIGHAR mempertimbangkan rencana cadangan, yaitu mengirimkan sampel tanah ke laboratorium yang mampu mengekstrak DNA. Hari terakhir ekspedisi, arkeolog mengisi lima kantong plastik dengan tanah dari sekitar pohon ren. Sampel tanah itu kemudian akan dikirim ke laboratorium DNA di Jerman.

Dan kini, tim peneliti menunggu hasil dari analisis DNA tersebut untuk memastikan apakah misteri hidup Amelia Earhart memang berakhir di pulau tersebut atau di tempat lain yang belum diketahui.

Penemuan Kerangka di Nikumaroro pada 1940

Tetapi bukti yang paling menarik dari dugaan tim TIGHAR adalah kerangka yang ditemukan di pulau itu pada 1940.

Pada penyelidikan awal oleh tim D. W. Hoodless, pemeriksa medis, tulang-tulang yang ditemukan tersebut kemudian diabaikan di sana. Alasannya karena mereka menduga bahwa kemungkinan besar tulang tersebut adalah laki-laki.

Memang, sejumlah pria tewas di Nikumaroro dalam kecelakaan pesawat pada 1929. Jadi, tidak mengherankan jika menemukan tulang laki-laki di sana. Lalu, tulang-belulang tersebut ditinggalkan dan terlupakan.

Well, pastinya kalian sudah tau kan sedikit history tentang jejak kematiannya Amelia Earhart serta penemuan kerangka di Nikumaroo. Dan saatnya kita kembali ke inti permasalah…

Misteri hilangnya Earhart hingga kini terus menuai perdebatan. Banyak teori muncul mengenai nasibnya. Salah satu teori yang terpublikasikan dengan baik adalah, Earhart tewas terlempar dari pesawatnya di Nikumaroro, satu atol karang yang berjarak 1.200 mil dari Kepulauan Marshall, Samudra Pasifik.

Teori lain juga menyebutkan, Earhart dan Noonan tidak meninggal karena kecelakaan. Satu temuan lempeng pesawat mereka di kawasan itu memunculkan teori bahwa mereka mungkin mendarat darurat di satu pulau yang tak pernah ditemukan dan kemudian mereka meninggal di sana setelah bertahan hidup.

Misteri hilangnya Earhart kian menyandukan, karena saat dinyatakan hilang, Earhart sedang tersohor di AS bahkan dunia, berkat publikasinya sebagai wanita pertama yang terbang melintasi Samudra Atlantik pada 1928. Earhart saat itu menjadi sangat dekat dengan first lady AS, Eleanor Roosevelt, istri Presiden AS ke-32, Franklin D. Roosevelt.

Richard Jantz Mengklaim bahwa, Tulang-tulang dari Nikumaroro adalah Milik Amelia Earhart

Dan pada 8 Maret 2018, media ramai memberitahukan penelitian terbaru tentang belulang yang ditemukan di Pulau Nikumaroro. Seperti yang sudah kita bahas di atas, bahwa tulang belulang manusia itu ditemukan di dekat bekas api unggun di pulau Nikumaroro pada tahun 1940. Dan ketiga belas tulang tersebut kemudian dikirim ke Fiji untuk dianalisis oleh dua dokter. Dokter pertama berkata bahwa tulang berasal dari pria Polynesia lanjut usia, sedangkan dokter kedua yakni David Hoodless berpendapat bahwa tulang-tulang itu berasal dari pria Eropa.

Namun, kini analisis forensik menunjukkan bahwa tulang-tulang itu kemungkinan besar adalah milik Earhart. Walaupun tulang Nikumaroro telah hilang, antropolog forensik dari University of Tennessee, Richard Jantz, mencoba untuk mengaplikasikan teknik forensik modern dengan menganalisis hasil pengukuran Hoodless terhadap tulang-tulang tersebut dan membandingkannya dengan dimensi tubuh Earhart yang didapat dari foto dan pakaian.

Hasil yang diberitahukan dalam jurnal Forensic Anthropology menunjukkan bahwa tulang Nikumaroro lebih mirip dengan Earhart daripada 99 persen individu yang menjadi sampel penelitian.

“Sangat mungkin bila tulang Nikumaroro adalah milik Amelia Earhart. Jika tidak, maka mereka adalah milik wanita yang sangat mirip dengannya,” tulis Jantz.

Sayangnya, temuan Jantz sulit dikonfirmasikan karena tulang-tulang Nikumaroro telah hilang. Akan tetapi, Jantz juga berkata bahwa data sejarah dan bukti-bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa perjalanan Earhart memang berakhir di Nikumaroro.

“Sampai ada bukti yang pasti menunjukkan bahwa tulang-tulang itu bukan milik Amelia Earhart, argumen yang paling meyakinkan adalah tulang-tulang itu memang miliknya,” tulis Jantz dengan percaya diri.

Apa yang Membuat Richard Jantz begitu Yakin?

Yang membuatnya begitu yakin karena, para peneliti yang bekerja dengan Jantz menggunakan teknik kuantitatif modern, termasuk sebuah program yang dikenal sebagai Fordisc, yang memperkirakan seks, keturunan dan perawakan dari pengukuran kerangka, Jantz memeriksa kembali tujuh pengukuran yang dilakukan oleh Hoodless, empat pengukuran tengkorak dan tiga pengukuran tulang tibia, humerus, dan radius.

Jantz membandingkannya dengan pengukuran panjang tulang Earhart berdasarkan foto dan pemeriksaan pakaiannya, Akhirnya dia menentukan bahwa tulang-tulang itu kemungkinan adalah tulang dari penerbang wanita itu.

Dan berdasarkan studi tersebut, tulang itu memiliki kemiripan lebih besar dengan Earhart dibandingkan 99 persen individu dalam sampel referensi yang besar.

“Hasil ini sangat mendukung kesimpulan bahwa tulang-tulang dari Nikumaroro adalah milik Amelia Earhart. Tulang-tulang itu sesuai dengan Earhart dalam semua hal yang kita tahu atau cukup untuk dapat menyimpulkannya,” kata Jantz

Namun terlepas dari skeptisisme Jantz tentang analisis tulang tahun 1940, beberapa ilmuwan modern telah mendukung hasil Hoodless. Boleh jadi ini akan menyenangkan hati para penyuka kisah misteri dengan harapan misteri hilangnya Earhart tidak benar-benar telah selesai, terlebih nasib Noonan pun masih belum jelas.

Yah, seperti yang kita bahas bahwa ini memang sedikit rumit. Masalahnya, tidak ada tulang yang benar-benar bisa diperiksa secara langsung untuk kepastian yang sebenarnya. Semua analisis mereka hanya berdasarkan pada catatan sekitar 80 tahun lalu, ketika penyelidikan awal di Nikumaroro dilakukan. Dan pada akhirnya, kita mungkin tidak akan pernah tahu secara pasti apa yang terjadi pada Amelia Earhart dan Fred Noonan.. see you again di next artikel guys…

You might also like