Hunting for Tolerance

Tahukah Anda Ternyata Suku Taino Yang Dianggap “Punah” Tidak Pernah Mati?

Kehidupan yang kita jalani di dunia ini bagaikan sebuah pohon, yang diibaratkan akar adalah sejarah masa lalu, batang adalah masa kini dan tunas daun adalah masa depan. Maka dari itu sejarah merupakan sebuah tonggak kehidupan disuatu Negara, Kota ataupun Daerah. Sejarah merupakan sebuah peristiwa penting yang patut diabadikan.

Dan di artikel kali ini kita akan sedikit kembali ke masa lalu, yaitu kita akan mengulas tentang Suku asli Karibia yang dianggap sudah punah, yaitu “Taino”. Penasarankan? Yuk baca teruss…

Sungguh mengejutkan, sebuah bukti DNA terbaru menunjukkan bahwa garis keturunan Taino, suku asli Karibia, masih hidup. Apa iya? Masa sihh? Dan keberadaan mereka semula diduga telah punah sejak orang Eropa datang ke Amerika dan mengkoloni wilayah tersebut. Baca terus guys..

Ketika Columbus tiba, kepulauan Karibia dihuni oleh orang-orang yang dikenal sekarang sebagai “Taino.” Kemungkinan besar mereka adalah penduduk pra-Colombus di Bahama, Antilles Besar dan Antilles Kecil utara. Dipercaya bahwa Taino berhubungan dengan bangsa Arawak di Amerika Selatan. Bahasa mereka adalah anggota dari keluarga bahasa Maipurea. Dan ketika pada saat itu, mereka dengan sopan menyambut Christopher Columbus saat mendarat di Dunia Baru.

Namun dalam setengah abad setelah kedatangan Christopher Columbus ke benua Amerika, penduduk asli Karibia hilang, yang semula berjumlah ratusan ribu turun menjadi hanya 500 orang, kok bisa? Kenapa? Berbagai cara dan teori menyebutkan bahwa, kepunahan suku bangsa ini dikarenakan adanya wabah penyakit seperti tuberkolosis (tb), diare, cacar, perbudakan ataupun sebuah peperangan antar suku, antar kepentingan dan sebagainya sehingga menyebabkan suku ini menghadapi titik kritis hingga punah.

Suku Taino diduga sudah lama musnah, tetapi penduduk setempat bersikeras bahwa semua ini tidak benar, sampai akhirnya sebuah analisis DNA menunjukkan bahwa penduduk setempat benar dan setidaknya satu populasi Karibia modern termasuk keturunan Lucayan Taino.

DNA diambil dari seorang wanita Lucayan Taino yang hidup sekitar 1.000 tahun yang lalu menurut penanggalan radiokarbon atau sekitar 500 tahun sebelum Columbus muncul. Periset percaya bahwa, orang-orangnya tiba di daerah sekitar itu 2.500 tahun yang lalu. Seperti yang bisa terjadi saat serendipity dimainkan, dia ditemukan oleh para peneliti yang sedang mencari sesuatu yang lain sama sekali.

Dan untuk memastikan masa depan suku Taino, Schroeder (arkeolog genetik dari University of Copenhagen di Denmark) serta rekan-rekan penelitinya mencari tahu masa lalu suku tersebut hingga pada masa 500 tahun sebelum Columbus datang ke Amerika.

Mengenal Taino, Orang Asli Karibia

Taíno adalah orang Arawak yang merupakan penduduk asli Karibia dan Florida. Pada saat kontak Eropa di akhir abad ke-15, mereka adalah penghuni utama sebagian besar Kuba, Jamaika, Hispaniola (Republik Dominika dan Haiti), dan Puerto Riko.

Di Antilles Besar, Northern Lesser Antilles, dan Bahama, mereka dikenal sebagai orang Lucaid dan berbicara bahasa Taíno, sebuah turunan dari bahasa Arawakan.

Nenek moyang Taíno memasuki Karibia dari Amerika Selatan. Pada saat itu, Taíno dibagi menjadi tiga kelompok besar yang dikenal sebagai Western Taíno (Jamaika, sebagian besar Kuba dan Bahama), Classic Taíno (Hispaniola dan Puerto Riko) dan Eastern Taíno (Northern Lesser Antilles). Kelompok keempat yang kurang dikenal kemudian melakukan perjalanan ke Florida dan dibagi menjadi beberapa suku. Saat ini, kita tahu ada empat suku yang bernama, Tequesta, Calusa, Jaega dan Ais. Suku lain diketahui telah menetap di Florida, namun nama mereka tidak diketahui.

Pada saat kedatangan Columbus di tahun 1492, ada lima kepala sekolah dan wilayah Taíno di Hispaniola, masing-masing dipimpin oleh seorang kepala Cacique (Kepala Suku), untuk memberikan penghargaan. Ayiti (“tanah pegunungan tinggi”) adalah nama asli Taíno untuk sisi pegunungan pulau Hispaniola, yang mempertahankan namanya sebagai Haïti dalam bahasa Prancis.

Kuba, pulau terbesar di Antillen Belanda, pada awalnya terbagi menjadi 29 kepala desa. Sebagian besar permukiman asli, kemudian menjadi tempat kota penjajahan Spanyol yang mempertahankan nama Taíno yang asli. Contohnya: Havana, Batabanó, Camagüey, Baracoa dan Bayamo yang masih dikenali oleh nama Taino mereka.

Puerto Riko juga dijadikan sebagai kepala suku. Sebagai kepala suku keturunan suku Taíno, cacique diberi penghargaan yang berarti. Pada saat penaklukan Spanyol, pusat populasi Taíno terbesar mungkin berisi lebih dari 3.000 orang.

Secara historis, Taino adalah musuh dari suku Indian yang berdekatan, kelompok lain yang berasal dari Amerika Selatan, yang tinggal di Lesser Antilles. Hubungan antara kedua kelompok tersebut telah menjadi subyek banyak penelitian. Pada abad ke-15, untuk sebagian besar suku Taíno dibawa ke timur laut di Karibia karena penggerebekan oleh Carib, yang mengakibatkan Perempuan dibawa dalam penggerebekan dan banyak wanita kulit putih yang berbicara Taíno.

Orang-orang Spanyol pertama kali tiba di Bahama, Kuba dan Hispaniola pada tahun 1492 dan kemudian di Puerto Riko, tidak membawa wanita dalam ekspedisi pertama. Mereka mengambil banyak perempuan Tainos dan mulai melakukan kawin silang yang menghasilkan keturunan sebagai Mestizo (campuran). Kekerasan seksual di Hispaniola dengan wanita Taíno oleh orang Spanyol juga biasa terjadi. Karena para ilmuwan menyarankan adanya pencampuran ras dan budaya yang substansial di Kuba dan beberapa pueblaga India bertahan sampai abad ke-19.

Taíno menjadi hampir punah sebagai budaya yang mengikuti pemukiman oleh penjajah Spanyol, terutama akibat penyakit menular yang mereka punya tidak mempunyai kekebalan tubuh. Wabah cacar pertama yang tercatat di Hispaniola terjadi pada bulan Desember 1518 atau 1519 Januari. Epidemi cacar 1518 membunuh 90% penduduk asli yang belum binasa. Peperangan dan perbudakan keras oleh kolonis juga menyebabkan banyak kematian. Pada tahun 1548, penduduk asli telah menurun menjadi kurang dari 500. Dimulai pada sekitar tahun 1840, telah ada upaya untuk menciptakan identitas Taino asli di daerah pedesaan Kuba, Republik Dominika dan Puerto Riko. Tren ini dipercepat di antara komunitas Puerto Riko di Amerika Serikat pada tahun 1960an.

Latar Belakang Bangsa Eropa Datang ke Amerika

Seperti yang kita ketahui bahwa, Amerika latin berasal dari kata “Latin” pada Amerika Latin berarti “Latium” merupakan rumpun bangsa Romawi termasuk rumpun bangsa-bangsa Portugis, Spanyol, Italia, Inggris serta bangsa-bangsa Eropa lainnya. Amerika Latin mendapat banyak pengaruh dari bangsa-bangsa Eropa, baik politik maupun kebudayaan. Sebagian besar negara-negara di Amerika Latin merupakan daerah kekuasaan Spanyol dan Portugis. Namun pada dasarnya Amerika Latin tidak hanya dipengaruhi politik dan kebudayaan Spanyol atau Portugis saja, tetapi juga oleh Inggris, Perancis, Belanda dan Amerika Serikat.

Pada awalnya, para penjelajah Eropa melakukan pelayaran dengan kepentingan pribadi maupun ditugaskan oleh pemerintahnya. Dan penjajahan bangsa Barat di Amerika Latin mempunyai persamaan yaitu menemukan daerah-daerah baru kemudian dikuasai dan dijadikan koloni. Perkembangan dunia pelayaran dan kebutuhan akan daerah baru baik untuk keperluan ekonomi maupun politik mendorong bangsa Eropa untuk mencari daerah kekuasaan. Khususnya Amerika Latin, yang merupakan daerah kaya akan sumber daya alam nya, terutama bahan tambang yang sangat menggiurkan bangsa Eropa. Dan untuk itu bangsa Eropa melakukan kolonialisasi terhadap Amerika Latin yaitu Portugis, Spanyol dan Inggris.

Awal Kedatangan Bangsa Eropa di Amerika

Orang pertama yang tinggal di belahan bumi barat adalah keluarga band (Viking) dari pemburu dan pengumpul yang bermigrasi dari timur laut asia selama zaman es besar terakhir, yang berakhir sekitar 12.000 tahun yang lalu. Perjalanan dari Siberia ke Alaska melintasi sebuah jembatan tanah yang terbentuk ketika glaciation menurunkan permukaan laut dan terkena lahan kering di Selat Bering.

Para imigran “pertama” tidak sadar bahwa mereka sedang bermigrasi, tetapi hanya mengikuti kawanan hewan yang bergerak di depan mereka. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa penempatan penduduk serampangan benua Amerika berlanjut di gelombang berturut-turut selama ribuan tahun sampai gletser mencair dan air laut naik terendam jembatan darat.

Sejarah menyebutkan bahwa Benua Amerika pertama kali ditemukan oleh Christopher Columbus. Hal yang telah menjadi pengetahuan umum semua anak manusia dibumi ini.

Orang Eropa pertama yang mendaratkan kaki ke Amerika utara adalah Kaum Norse (norwegia) yang berlayar ke Greenland dimana The Red Eric mendirikan sebuah pemukiman sekitar tahun 985. Penemuan benua Amerika oleh Christofer Colombus dan dilanjutkan oleh Amerigo Vespucci yang waktunya tepat dan melakukan pemetaan membuat orang Eropa berbondong-bondong datang ke Amerika. Alasan orang Eropa migrasi ke Amerika (khususnya orang-orang inggris):

  • Ekonomi, ditemukannya batu bara, mesin uap, minyak bumi dan teknologi lain. Revolusi industry mengubah sistem ekonomi yang dulunya peternakan menjadi pertanian sehingga membutuhkan lebih banyak lahan.
  • Politik, tidak setuju dengan pemerintah Ingris sehingga banyak yang mencari suaka ke tempat lain.
  • Agama, mencari tempat yang bisa menjalankan agama secara murni (Kristen puritan).

Namun berbagai literatur dan bukti-bukti fisik berupa prasasti, manuscript dan kabar berita lainnya menyebutkan lain, bukan Colombus penemu benua Amerika. 70 tahun sebelum Columbus menjejakkan kaki di Amerika, daratan yang disangkanya India, Laksamana Muslim dari China bernama Ceng Ho (Zheng He) telah mendarat di Amerika. Bahkan berabad sebelum Ceng Ho, pelaut-pelaut Muslim dari Spanyol dan Afrika Barat telah membuat kampung-kampung di Amerika dan berasimilasi secara damai dengan penduduk lokal di sana. Penemu Amerika bukanlah Columbus, melainkan Umat Islam. Mereka menikah dengan penduduk lokal, orang-orang Indian, sehingga menjadi bagian dari local-genius Amerika.

Apa Tujuan Bangsa Eropa Datang ke Amerika?

Datangnya bangsa Eropa ke Amerika diperkirakan tahun 1600M. Gelombang perpindahan ini berlangsung lebih dari 300 tahun. Kelompok yang paling banyak datang berasal dari Inggris. Wilayah pemukiman pertama Inggris di Amerika adalah pos perdagangan yang didirikan di James Town tahun 1607. Dan daerah virgina merupakan pusat perekenomian utama bagi penghasil tembakau. So, tujuan bangsa Eropa masuk ke Amerika karena ada beberapa hal, yaitu:

  1. Untuk memperoleh kesempatan ekonomi yang lebih baik.
  2. Mencari kebebasan untuk berpolitik.
  3. Mencari kebebasan untuk beragama.
  4. Adanya factor renaissance dan reformasi.
  5. Pengaruh adanya kemajuan teknologi.

Diantara negara-negara Eropa yang selalu terlibat dalam persaingan memperebutkan daerah baru di Amerika adalah Inggris dan Perancis. Banyaknya pertentangan yang terjadi di Amerika tidak terlepas dari pertentangan politik yang terjadi di Eropa antara kedua negara tersebut. Pertentangan politik berubah menjadi peperangan yang dikenal dengan Perang Tujuh Tahun (1756-1763). Peperangan di Eropa terjadi pula di daerah koloni, antara koloni Inggris dan koloni Perancis. Dan perang yang dijalankan selama tujuh tahun tersebut dimenangkan oleh Inggris pada tahun 1763.

Sebenarnya, Siapa Penemu Benua Amerika itu?

Ketika Anda ditanya tentang siapa penemu Benua Amerika, pastinya nama yang terpikir adalah Cristoforo Colombo alias Christopher Columbus. Lantas, ketika ditanya dari manakah nama Amerika diambil, jawaban yang kemungkinan disebut adalah Amerigo Vespucci. Hal itu sangat bisa dimaklumi mengingat sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) diklaim bahwa Columbus lah sebagai penjejak pertama tanah Amerika pada 1492 yang telah diajarkan. Yang dikatakan disitu bahwa, pedagang sekaligus penjelajah asal Genoa, Italia itu menyeberangi Samudra Atlantik dan sampai di Benua Amerika pada 12 Oktober 1402. Namun, berdasarkan fakta sejarah, apakah semua yang dikatakan itu benar?

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, salah satu tokoh yang tidak percaya bahwa Benua Amerika ditemukan oleh Columbus. Ketika itu berpidato pada KTT para pemimpin Muslim dari Amerika Latin, di Istanbul, Turki. Erdogan secara tegas menyatakan bahwa ketika itu Amerika ditemukan para pelaut Muslim di abad ke-12, hampir tiga abad sebelum Columbus menginjakkan kaki disana. Menurut Erdogan, kontak-kontak antara Amerika Latin dan Islam telah dilakukan sejak abad ke-12.

Sebelumnya, seorang ahli kapal selam dan sejarawan kondang Gavin Menzies pun membantah klaim bahwa Columbus adalah penjelajah pertama Amerika. Menurutnya, penemu Benua Amerika adalah Laksamana Muslim asal Cina bernama Cheng Ho. Dalam catatannya, Cheng Ho menginjakkan kaki di sana 70 tahun sebelum pelayaran Columbus. Kepada publik ia menunjukkan bukti berupa peta-peta pelayaran kuno dan artefak yang secara jelas menyatakan Cheng Ho pernah singgah di Amerika setelah melakukan pelayaran pada periode 1421-1423.

Diceritakannya bahwa, pada 1405 ketika Cheng Ho ditugaskan menjelajahi dunia bersama beberapa armada laut Cina yang memakan waktu dua tahun, sang Laksamana berhasil melewati Champa, Jawa, Palembang, Malaka, Aru, Sumatra, Sri Lanka dan Kalkuta. Inilah pelayaran yang dianggap sebagai momen penting pelayaran Cina di Nusantara.

Khusus mengenai pelayaran menuju Benua Amerika, beberapa sumber arkeologi menyebutkan bahwa, Cheng Ho pernah berlayar bersama awak kapalnya pada 1421 hingga 1423. Sebelum sampai di Benua Amerika, tepatnya di Amerika bagian selatan setelah menyeberang dari Afrika, Cheng Ho melewati jalur yang terkenal sangat sulit dan berbahaya. Beberapa sumber memaparkan, sering kali kapal-kapal Eropa yang melewati jalur tersebut terdampar akibat terhalang ombak.

So, banyak berbagai sumber yang menyatakan pendapat yang berbeda-beda tentang siapa sebenarnya penemu Benua Amerika. Dan semua tergantu di Anda untuk mempercayai atau sebaliknya

Inilah Bukti bahwa, Laksamana Cheng Ho adalah Penemu Amerika, bukan Columbus

Di dalam sejarah tertulis: Pedagang asal Genoa, Italia, Christopher Columbus memimpin armada kapal menyeberangi Samudera Atlantik. Ia tiba di ‘Dunia Baru’ pada tanggal 12 Oktober 1492. ‘Dunia baru’ itu yang kemudian disebut Benua Amerika. Meski hingga kematiannya, Columbus yakin benar bahwa, ia menemukan rute baru dan berhasil telah mendarat di Asia, di tanah yang digambarkan Marco Polo.

Tetapi, sebuah salinan peta berusia 600 tahun yang ditemukan di sebuah toko buku loak mengancam status Columbus sebagai penemu Amerika dan juga menjadi kunci untuk membuktikan bahwa orang dari Negeri China yang pertama menemukan benua itu.

Dokumen tersebut konon berasal dari suatu ketika di Abad ke-18, yang merupakan salinan peta 1418 yang dibuat Laksamana Cheng Ho, yang menunjukkan detil ‘Dunia Baru’ dalam beberapa sisi. Pendapat yang membuktikan bahwa laksamana China memetakan Belahan Bumi Barat (Western Hemisphere) lebih dari 70 tahun sebelum Columbus, adalah salah satu pendapat yang dimuat penulis Gavin Menzies dalam buku barunya, “Who Discovered America?”, yang diluncurkan jelang Hari Columbus tahun ini.

“Kisah tradisional bahwa Columbus menemukan ‘Dunia Baru’ adalah fantasi belaka,” kata dia.

Ia bahkan yakin, Columbus memiliki salinan peta Cheng Ho saat mengarungi samudera menuju Amerika.

Tidak hanya itu, Menzies juga mengatakan, armada megah kapal China yang dipimpin Cheng Ho berlayar di sekitar daratan Amerika Selatan, 100 tahun sebelum Ferdinand Megellan, orang pertama yang berlayar dari Eropa ke Asia, orang Eropa pertama yang melayari Samudra Pasifik dan orang pertama yang memimpin ekspedisi yang bertujuan mengelilingi bola dunia.

Lebih jauh lagi, Menzies berpendapat bahwa, pemukim pertama Belahan Bumi Barat tidak berasal dari “Jembatan Selat Bering”, tapi pelaut China yang pertama melintasi Samudera Pasifik sekitar 40 ribu tahun lalu.

Tak sampai disitu, ia juga menulis, penanda DNA yang membuktikan Indian Amerika dan pribumi lainnya adalah keturunan para pemukim dari Asia.

Bukti Peta

Pendapat bahwa Cheng Ho menemukan Amerika, bukan kali ini saja diungkap oleh Menzies. Selain itu, ia juga pernah mempublikasikannya pada tahun 2002 lalu. Bedanya, di buku terbarunya, ia menyertakan salinan peta yang ditemukan seorang pengacara di Beijing, Liu Gang di buku loak yang ia klaim memperkuat teorinya.

Ia bersikeras, peta itu jelas-jelas menunjukkan sungai dan perairan di Amerika Utara, demikian juga dengan daratan Amerika Selatan. Sebelumnya, si penemu peta, Liu mendapatkan pengakuan dari balai lelang Christie’s bahwa dokumennya kuno dari Abad ke-18, bukan palsu.

Dari peta itu, Menzies juga berkonsultasi dengan tim sejarawan yang menganalisa tulisan yang tertera di sana. Lalu, ia menyimpulkan bahwa, peta itu aslinya dibuat pada masa Dinasti Ming, periode pemerintahan di China yang berlangsung tahun 1368-1644.

Salah satu wilayah dari peta, diyakini Menzies mengacu pada Peru. “Di sini orang-orang mempraktekkan agama Paracas. Disini juga orang-orang mempraktekkan pengorbanan manusia”, demikian ujar dia dalam bukunya.

Tidak hanya itu, Menzies juga menambahkan, ada banyak istilah China yang digunakan di sejumlah kota dan wilayah di Peru. Dalam peta kuno Peru, misalnya, ada istilah “Chawan”, tanah yang disiapkan untuk disemaikan dan “Chulin” yang artinya kayu atau hutan.

Pemukim dari Asia

Menzies tak diakui sebagai sejarawan dan bukan lulusan universitas ternama. Dia adalah bekas serdadu di kapal perang milik Angkatan Laut Inggris. Tapi, ia bukan amatiran.

“Who Discovered America?” merupakan buku keempatnya, dimana ia berusaha menulis kembali sejarah dalam kaca mata Timur. Namun teori-teorinya yang ‘pro-Asia’ tidak diterima oleh komunitas akademik. Pada 2008, profesor sejarah University of London, Felipe Fernandez-Armesto mengatakan, buku Menzies sekelas buku kisah hidup Elvis Presley yang dijual di supermarket atau kisah hamster alien.

Debut Menzies dimulai pada 2002 lalu dalam bukunya, “1421: The Year China Discovered the World” yang menyebutkan bahwa Laksamana Ceng Ho mencapai Eropa dan Afrika, juga melintasi Samudera Pasifik, ke Belahan Bumi Barat. Dia mengklaim Cheng Ho tak hanya menemukan Dunia Baru pada 1421, tapi meninggalkan koloni disana. Armadanya juga berlayar di sekitar ujung Amerika Selatan melalui Selat Megellan sekitar Teluk Meksiko dan sampai Mississippi.

Sementara dalam buku barunya, Menzies fokus pada teori tentang orang Asia yang berhasil sampai ke Amerika Utara dan Selatan jauh sebelum Cheng Ho. “Setidaknya 40 ribu tahun lalu,” tulis dia.

Kebanyakan ilmuwan percaya bahwa manusia pertama menghuni Belahan Bumi Barat sekitar 13.000 sampai 16.500 tahun yang lalu. Teori universal di kalangan para akademisi adalah, manusia tiba di ‘Dunia Baru’ dengan menyeberangi ‘Jembatan Selat Bering’, lewat tanah yang menghubungkan antara Asia dan Amerika Utara.

“Semakin saya berpikir tentang teori Bering Straight, makin terasa konyol,” kata Menzies. Menzies mengatakan ide bahwa manusia mampu menyeberangi Samudra Pasifik di masa sekitar 40 ribu SM tak sedramatis kedengarannya.

“Jika Anda masuk ke bak mandi plastik, arus juga akan membawa Anda kesana,” kata dia. “Kuncinya ada pada arus.” Jadi, siapa penemu benua Amerika?

Lantas, Apa yang Membuktikan bahwa Suku Taino Tidak Punah?

Kembali lagi ke awal ke inti permasalahan nya, seperti yang sudah kita bicarakan di atas bahwa tenyata suku Taino tidak punah. Apa buktinya suku Taino tidak punah? Darimana tahu nya bahwa suku Taino tidak punah?

Yang membuktikan bahwa suku Taino tidak punah yaitu sebuah bukti DNA terbaru yang menunjukkan bahwa garis keturunan mereka masih hidup. Iya? Kok bisa?

“Ini penemuan yang luar biasa,” kata Hannes Schroeder, arkeolog genetik dari University of Copenhagen di Denmark.

“Kebanyakan buku sejarah mengatakan orang asli Karibia sudah punah, tapi orang-orang yang menyebut diri mereka Taino ini bisa jadi adalah keturunan mereka,” kata Schroeder dilansir Science Alert. “Sekarang kami tahu kalau mereka benar. Ada penerus gen mereka di Karibia.”

Sebelumnya, para peneliti menemukan area pemakaman dari suku kuno yang bernama Lucayan di sebuah gua raksasa yang bernama Preacher’s Cave di Pulau Bahama. Lucayan adalah cabang suku dari Taino yang merupakan penghuni asli Bahama.

Salah satu kerangka yang ditemukan disana adalah milik seorang wanita yang tinggal di beberapa titik antara abad ke-8 dan ke-10, dan giginya masih awet sehingga DNA yang masih menempel pada gigi tersebut memungkinkan untuk diambil dan memilah genom manusia purba dari Karibia secara lengkap untuk pertama kalinya.

Analisis DNA tersebut kemudian menunjukkan bahwa wanita tersebut secara genetik memiliki kedekatan hubungan dengan suku pengguna bahasa Arawakan yang saat ini tinggal di Amerika Selatan bagian utara. Selain itu, analisis DNA ini juga menunjukkan hal lain.

Ketika mereka membandingkan wanita kuno itu dengan penduduk pulau kepulauan Karibia saat ini, mereka justru menemukan orang Puerto Rico yang kontemporer lebih dekat secara genetik dengan penduduk asli yang dianggap ‘sudah punah’ daripada kelompok pribumi lainnya di Amerika.

“Kami menemukan bahwa komponen asli genom Puerto Rico saat ini terkait erat dengan Suku Taíno kuno,” tulis para peneliti. “Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara penduduk sebelum adanya orang Eropa dan populasi orang Latin di Karibia saat ini”.

Tim peneliti meyakini bahwa studi lain akan menggali lebih banyak bukti genetik yang dapat menunjukkan bahwa ada garis keturunan dari pribumi Karibia lainnya yang juga masih bertahan. Jika bukti-bukti genetik ini ditemukan, maka akhirnya akan dapat dibuktikan bahwa sejarawan telah melakukan kesalahan karena telah mengatakan bahwa penduduk pribumi Karibia sudah tidak ada.

“Saya harap nenek saya masih hidup hari ini sehingga saya bisa mengatakan ia benar mengenai hal ini dan ia sudah tahu,” kata Jorge Estevez, salah seorang keturunan Taino dari National Museum of the American Indian di New York, yang membantu tim dalam penelitian mereka.

“Ini menunjukkan bahwa yang terjadi disini adalah asimilasi, tentu saja, tapi bukan kepunahan total. Saya benar-benar berterima kasih kepada para peneliti. Meskipun bagi mereka ini hanyalah sebuah penelitian, tapi bagi kami, keturunan mereka, ini benar-benar membebaskan dan menggembirakan.”

Selain menulis ulang buku-buku sejarah, penemuan-penemuan ini akan membantu ribuan warga Karibia untuk menemukan kebenaran mengenai sejarah keluarga mereka.

“Ini hampir seperti individu Taíno kuno, yang mereka lihat adalah sepupu leluhur orang-orang dari Puerto Rico,” kata ahli genetika Maria Nieves-Colón yang tidak terlibat dalam studi tersebut namun dibesarkan di Puerto Riko, dilansir Science Alert.

“Anda tahu? Orang-orang ini tidak hilang. Sebenarnya mereka masih di sini. Mereka ada di dalam diri kita.”

Apakah memang benar bahwa suku Taino yang selama ini dianggap punah ternyata tidak mati? Semua kembali kepada Anda untuk mempercayai atau bahkan sebaliknya, semoga bisa menambah wawasan guys…

You might also like