Hunting for Tolerance

Begini Cambridge Analytica Menggunakan Data dari Facebook untuk Membantu Trump

Bukan pertama kalinya Facebook menjadi perbincangan. Seiring dengan berjalan nya waktu, ada pihak tertentu yang melihat jumlah penggunanya yang kian meningkat sebagai kesempatan untuk menjalankan misi lain. Dan kali ini, raksasa media sosial Facebook itu tengah didera dengan isu soal keamanan data. Pasalnya, perusahaan yang dituding mencuri datanya adalah sebuah lembaga survei sekaligus konsultan politik internasional, Cambridge Analytica.

Cambridge Analytica, perusahaan analisis data asal Inggris, saat ini sedang menjadi sorotan seluruh dunia dan target investigasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Inggris setelah memberitakan bahwa, perusahaan secara ilegal mendapat data pribadi pengguna Facebook sejak tahun 2014. Dan perusahaan yang berbasis di Inggris ini, diduga memperoleh data dari jutaan pengguna Facebook tersebut dengan cara yang melanggar kebijakan jaringan sosial. Kemudian ia menggunakan informasi itu untuk membuat profil psikografis pengguna, yang digunakan untuk pengumuman politik tertentu dalam kampanye referendum Brexit di Inggris, serta untuk tim Trump selama pemilu AS 2016.

Yang lebih membuat berita ini begitu terkenal yaitu karena, membantu kampanye pemilihan presiden (pilpres) AS. Yaps, Donald Trump merupakan klien dari Cambridge Analytica pada Pilpres AS 2016 lalu. Trump pun keluar sebagai juara dan kini menjadi Presiden AS meski menuai kontroversi selama masa kampanye.

Dan pendiri Facebook sendiri, Mark Zuckerberg, telah membenarkan semua isu tersebut dan juga mengakui bahwa Facebook telah “membuat kesalahan” dalam tugasnya melindungi data pengguna. Dan sepertinya Zuckerberg tak ingin kecolongan lagi. Pasalnya, sejak munculnya tuduhan ini akhir pekan lalu, perusahaan raksasa medsos ini kehilangan lebih dari Rp 450 triliun dari nilai sahamnya. “Kami akan belajar dari pengalaman ini untuk mengamankan platform kami lebih lanjut dan membuat komunitas kami lebih aman ke depan,” ujar Zuckerberg.

Nah disini, mimin bakalan ngajak kalian untuk mengetahui sedikit tentang perusahan Cambridge Analytica serta mengetahui bagaimana bisa perusahan Cambridge Analytica memenangkan Donald Trump. Penasaran, bukan? Tunggu apalagi guys, yuk kita habiskan sampai kebawah…

Apa itu Cambridge Analytica?

Cambridge Analytica adalah perusahaan analisis data yang berbasis di Inggris, yang merupakan cabang dari SCL (Strategic Communication Laboratories) Group, kontraktor pemerintah dan militer yang mengatakan bergerak di semua bidang, mulai dari riset keamanan makanan sampai kontra-narkotika dan kampanye politik. Cambridge Analytica membantu kampanye politik untuk menjangkau pemilih online secara potensial.

Cambridge Analytica didirikan sekitar tahun 2013 dengan fokus awal pada pemilu AS, dengan sokongan dana sebesar US$15 juta (Rp 206,3 miliar) dari donatur Partai Republik, milioner Robert Mercer dan seseorang yang kemudian menjadi Penasehat Gedung Putih Trump, Steve Bannon. Perusahaan yang dulunya memiliki sebagian besar pekerja asal Inggris, yang membantu kampanye Senator Republik Ted Cruz sebelum membantu Trump.

Well, perusahaan ini menggabungkan data dari berbagai sumber, termasuk informasi dan survei online untuk membangun “profil” pemilih. Kemudian, perusahaan menggunakan program komputer untuk memprediksi perilaku pemilih, yang kemudian dapat dipengaruhi melalui iklan khusus yang diarahkan pada pemilih.

 

Cambridge Analytica juga tidak berfungsi dengan sejumlah kecil data pengguna. Perusahaan itu mengatakan memiliki “5.000 poin data pada lebih dari 230 juta pemilih AS”, atau hampir semua dari kita, mengingat bahwa ada sekitar 250 juta orang usia pemilih di Amerika Serikat.

Sejak itu, perusahaan telah menghadapi kritik untuk apa eksekutif, termasuk CEO Alexander Nix, mengatakan dalam serangkaian video rahasia yang difilmkan di Channel 4 di Inggris. Dan dalam video-video itu, ia membahas kebohongan dan pemerasan yang jelas-jelas akan ia buat sebagai bagian dari upayanya untuk memengaruhi pemilihan.

“Kami memiliki banyak hal sejarah,” kata Nix dalam video, “Saya memberi Anda contoh tentang apa yang dapat dilakukan dan apa yang telah dilakukan”.

Sejak itu, Nix diskors dari pekerjaannya sebagai direktur eksekutif. Komentarnya “tidak mewakili nilai atau operasi perusahaan dan penangguhannya mencerminkan keseriusan yang kita lihat ini sebagai pelanggaran,” dikatakan perusahaan dalam sebuah pernyataan.

Apa yang Mereka Kerjaan?

Facebook mengatakan bahwa Cambridge Analytica menerima data dari pengguna Aleksandr Kogan, seorang profesor psikologi di University of Cambridge melalui aplikasi survei di Facebook beberapa tahun lalu. Hasil survei kemudian diteruskan ke Cambridge Analytica, yang menggunakannya untuk menargetkan pengguna FB dengan iklan politik selama kampanye Pilpres Amerika Serikat 2016. Menurut laporan, Kogan menciptakan sebuah aplikasi yang disebut “thisisyourdigitallife” yang seolah-olah menawarkan prediksi kepribadian kepada pengguna sementara menyebut dirinya alat penelitian untuk psikolog.

Aplikasi ini meminta pengguna untuk masuk menggunakan akun Facebook mereka. Sebagai bagian dari proses masuk, dia meminta akses ke profil pengguna Facebook, lokasi, apa yang mereka sukai tentang layanan dan, yang paling penting, data teman mereka. Dan tampaknya, data Facebook telah disalahgunakan untuk tujuan politik selama pemungutan suara Brexit di Inggris dan pemilihan presiden 2016.

Kata Facebook, masalahnya adalah, bahwa Kogan kemudian mengirim informasi pengguna ini ke Cambridge Analytica tanpa izin pengguna, sesuatu yang bertentangan dengan aturan jaringan sosial.

“Meskipun Kogan memperoleh akses ke informasi ini secara sah dan melalui saluran yang sesuai yang mengatur semua pengembang di Facebook pada waktu itu, tetapi itu tidak mematuhi aturan kami,” kata Paul Grewal, wakil presiden dan penasihat umum Facebook.

Selanjutnya, Apa yang akan Terjadi?

Facebook mengatakan pihaknya menuntut jawaban Cambridge Analytica, setelah mendapatkan kepastian dari perusahaan di tahun 2015 bahwa mereka sudah menghapus semua datanya. Facebook telah mempekerjakan auditor forensik dari perusahaan Stroz Friedberg untuk membantu penyelidikan.

Sambil menginvestigasi, Facebook mengatakan telah men-suspend Cambridge Analytica, perusahaan induknya SCL, Kogan, dan Christopher Wylie, mantan karyawan Cambridge Analytica, dari kanalnya karena melanggar peraturan platform.

Namun, penyelidikan Facebook sepertinya harus menanti sampai otoritas pemerintahan menuntaskan investigasinya. Kantor Komisioner Informasi Inggris sedang meminta surat perintah hakim untuk menggeledah kantor Cambridge Analytica dan meminta auditor Facebook untuk tidak ikut campur sementara ini, menurut Facebook.

Jaksa Agung dari negara bagian AS, Massachusetts dan Connecticut, telah meluncurkan investigasi tentang bagaimana data Facebook ditangani. Sementara kantor Jaksa Agung di California, lokasi kantor Facebook, mengatakan pihaknya tidak memiliki kekhawatiran apapun.

Apa Hubungannya ini dengan Trump?

Kampanye Trump menyewa Cambridge Analytica untuk menjalankan operasi data selama pemilu 2016. Steve Bannon, yang akhirnya menjadi kepala strategi Trump, juga merupakan wakil presiden dewan Cambridge Analytica. Perusahaan membantu kampanye mengidentifikasi pemilih untuk menargetkan iklan dan memberikan saran tentang cara memfokuskan pendekatan mereka dengan lebih baik, misalnya, di mana menghentikan kampanye. Dia juga membantu dengan komunikasi strategis, seperti apa yang harus dikatakan dalam pidato.

 

“Penerapan apa yang kami lakukan tidak terbatas,” kata CEO Cambridge Analytica Nix tahun lalu dalam sebuah wawancara.

Cambridge Analytica juga bekerja dengan kampanye pemilihan presiden 2016 lainnya, menurut situs webnya dan beberapa laporan pers. Di antara mereka adalah kampanye Senator Ted Cruz dan calon presiden Ben Carson, yang bergabung dengan kabinet Trump sebagai sekretaris perumahan dan pembangunan perkotaan.

Lalu, Bagaimana cara Cambridge Analytica Menggunakan Data dari Facebook untuk Membantu Menangkan Trump?

Cambridge Analytica dalam situs resminya mengungkap bagaimana mereka membantu pemenangan Trump. Mereka menyebut telah menganalisis jutaan poin data.

Salah satu strategi yang digunakan adalah bagaimana mengidentifikasi pemilih yang dapat dibujuk (persuadable voters) dan isu-isu yang para pemilih itu pedulikan. Cambridge Analytica kemudian mengirimkan “pesan-pesan”¬†yang berdampak pada sikap mereka.

“Dengan bantuan kami, kampanye Anda dapat memakai penargetan cerdas dan teknik pengiriman pesan canggih yang sama. Cambridge Analytica mengerahkan 3 tim yang terintegrasi untuk mendukung kampanye: riset, ilmu pengolahan data, dan pemasaran digital,” tulis Cambridge Analytica dalam situsnya.

Mereka juga menegaskan, tim pengolah data mereka sekaliber PhD alias doktor. Para anggota tim juga telah berpengalaman di berbagai pemilihan presiden, kongres, hingga gubernur.

Untuk Pilpres AS yang dimenangkan Trump, Cambridge Analytica membuat polling di 17 negara bagian setiap harinya untuk keperluan riset. Mereka lalu memberikan laporan tiap akhir bulan yang menunjukkan hasil polling ke 1.500 responden dari tiap negara bagian setiap pekan.

Cambridge Analytica membuat 20 model olahan data yang dapat digunakan untuk memprediksi kebiasaan pemilih. Mereka mengklaim pola analisisnya mampu mengidentifikasi pemilih seperti apa yang bakal memilih Trump.

“Setiap kami mensurvei seseorang, kami cocokkan informasi mereka dengan data yang telah ada di database kami. Kami analisis apapun dari riwayat memilih mereka yang dikonversikan ke mobil-mobil yang mereka kendarai, kami mengidentifikasi kebiasaan yang berkolerasi pada keputusan memilih,” papar Cambridge Analytica.

Komponen berikutnya adalah pemasaran digital. Cambridge Analytica berkolaborasi dengan puluhan teknologi periklanan untuk pengaruhi pemilih. Sebagai contohnya, kata mereka, jika ada orang yang peduli dengan kesehatan maka mereka akan dialihkan ke situs yang memaparkan program Trump soal kesehatan.

Komponen ini melibatkan sejumlah platform, termasuk media sosial, iklan situ pencarian, dan YouTube. Cambridge Analytica menyebut teknik yang mereka terapkan membuahkan hasil berupa kemenangan luar biasa atas Trump.

Nah, jadi itulah sediit penjelasan mengenai “Cambridge Analytica” atau perusahaan analisis data yang berbasis di Inggris, yang merupakan cabang dari SCL (Strategic Communication Laboratories) Group dan kesimpulannya, Cambridge Analytica memakai jutaan data pengguna Facebook untuk Kampanye Trump dan data tersebut dipakai untuk membuat algoritma sesuai target profil pemilih pada pemilu Amerika Serikat. Untuk pembelajaran, ada baiknya kita harus lebih berhati-hati lagi menggunakan medsos.. semoga bermanfaat and see you next article…

You might also like